Pembukaan
Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Program Water and Environmental Sanitation (WES) RI-Unicef diselenggarakan mulai 28-30 Oktober 2009 di Hotel Imperial Aryaduta Makassar, Sulawesi Selatan. Rakornas yang dihadiri sekitar 100 peserta dari seluruh provinsi, kabupaten, dan kota lokasi program WES, project officer, CFO, WES section Unicef, Care, Pokja AMPL Nasional, sekretariat WES, dan observer ini dibuka oleh Wakil Walikota Makassar.
Rakornas ini pada dasarnya merupakan koordinasi tingkat nasional yang ditujukan untuk mensinergikan pelaksanaan program WES mulai tingkat pusat sampai daerah, mengidentifikasi dan mengembangkan alternatif solusi bagi isu dan permasalahan strategis yang muncul selama pelaksanaan program, serta berbagi pengalaman, pembelajaran, inovasi dan praktik terbaik diantara sesama pelaku program.
Pada kesempatan pembukaan acara, Ketua Pokja AMPL Pusat yang juga Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas yang dibacakan Kasubdit Persampahan dan Drainase Bappenas Dr. Oswar Mungkasa memaparkan replikasi program Water and Environmental Sanitation (WES) oleh pemerintah daerah, penting karena pada dasarnya program ini hanya memberi model pendekatan dalam penyediaan air bersih dan sanitasi dengan paying kebijakan nasional air inum dan penyehatan lingkungan berbasis masyarakat. Oleh karena itu diharapakan pemerintah daerah dapat menginternalisasi pendekatan tersebut untuk kemudian direplikasi di daerah lainnya. Oleh karena itu program ini hanya member dukungan pada pemerintah daerah untuk sepenuhnya pemerintah daerahlah yang melaksanakan program ini ke depan. “Diharapkan mulai dikembangakan bersama dapat perbaikan oleh pemerintah daerah secara bertahap,” paparnya.
Rakornas ini, lanjut Oswar, diharapkan dapat mengakomodasi berbagai masukan terkait isu utama tantangan yang dihadapi dan kebutuhan untuk terus maju ke depan dari seluruh pemangku kepentingan. “Dengan demikian hal tersebut akan menjadi dasar yang kuat untuk melakukan langkah berikutnya,” ungkapnya.
Sementara sambutan Walikota Makassar yang dibacakan Wakil Walikota H. Supomo Guntur mengatakan program WES di Kota Makassar telah berjalan kurang lebih satu tahun, sepanjang perjalanan program ini telah banyak membantu Pemerintah Kota Makassar khususnya dalam penyediaan fasilitas air bersih bagi warga miskin yang tinggal pada kawasan marginal. “Selain itu, pelaksanaan Rakornas ini tentunya akan membawa dampak positif terhadap pembangaunan Kota Makassar,” tuturnya.
Seusai pembukaan, hari pertama pelaksanaan Rakornas tersebut digelar diskusi panel sesi I bertema “Pemaparan Kebijakan Sektor Air Minum dan Penyehatan Lingkungan oleh Lintas Departemen”, antara lain dari Bappenas, Depdiknas, Departemen PU, serta Depkes.
What was on in Second day ? Paparan Kisah Sukses oleh Kab/Kota Terpilih
Hari kedua pelaksanaan rakornas pada tanggal 29 Agustus 2009 pada dasarnya merupakan inti dari keseluruhan rangkaian kegiatan rakornas ini. diawali dengan sesi presentasi isu dan permasalahan oleh pokja provinsi. Masing-masing narasumber dari provinsi memaparkan hasi rakorwil yang telah diselenggarakan sebelum event akbar ini digelar. Materi paparan antara lain berisi tentang evaluasi pelaksanaan batch I Tahun 2006-2008. Diawali dengan mendiskusikan masalah internal kelembagaan pokja hingga proses pemberdayaan dan penguatan kapasitas masyarakat.

Acara hari kedua semakin menarik dengan sesi yang diset dengan cukup unik melalui metode round robbin. Sesi tersebut adalah sesi presentasi kisah sukses pelaksanaan program WES. Kisah sukses dikategorikan ke dalam 4 kategori yaitu kisah sukses kepokjaan yang diwakili oleh Kabupaten Seram Bagian Barat, Kabupaten Manokwari, Kabupaten Buru dan Kabupaten Ende, implementasi fisik dan inovasi sarana yang diwakili oleh Kabupaten Bima, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Biak dan Kabupaten Luwu Utara, implementasi komponen sekolah yang diwakili oleh Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Sorong, Kabupaten Takalar dan implementasi komponen perkotaan yang diwakili oleh Kota Makassar, Ambon dan Jayapura.
Kisah sukses Pokja AMPL Biak Numfor adalah pelaksanaan program WES di perdesaan berupa program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STMB) dengan menerapkan dua pilar, yaitu PAM RT: pembangunan PAH pada seluruh KK di Bakribo dan jamban keluarga dengan bebas BAB 100 persen di kampung Bakribo.
Dampak dari kisah sukses terhadap pembangunan sektor AMPL secara umum adalah adanya adanya kampung yang bebas BAB akan dilanjutkan program yang sama di kampung lain yang diprioritaskan oleh Dinas Kesehatan. Dampak adanya PAH disetiap KK akan dilanjutkan Dinas Pekerjaan Umum.
Masyarakat Kabupaten Biak Numfor menganggap bahwa perempuanlah yang paling merasakan susah jika harus BAB tidak pada tempatnya. Maka dengan adanya program WES-Unicef kaum perempuan lebih bersemangat untuk merubah PHBS. Mereka memelopori penggalian tanki septik dan turut membantu pembangunan PAH.
Sementara Pokja AMPL Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur mengandalkan Gelar Budaya sebagai media promosi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang dinilai efektif pada masyarakat khususnya anak-anak. Anak-anak adalah agen perubahan terhadap perilaku sehat dan menjadikan sekolah sebagai institusi strategis untuk pendidikan program kesehatan secara dini. Karena itu anak-anak dinilai sebagai investasi.
Pada Gelar Budaya ini, anak-anak khususnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar terlibat secara kolosal. Beragam perlombaan seni dan ketrampilan terkait promosi kesehatan pun digelar. Tak terkecuali tari Woge, sebuah tarian rakyat yang mempunyai nilai magis dan sakral. Dengan demikian tak sekedar melestarikan nilai kearifan lokal, namun memanfaatkan potensi lokal sebagai sarana promosi.
Our Last Day with Kunjungan Lapangan
“Lihat kuku ku penuh dengan tai. Ada yang bersih dan ada yang kotor. Setiap hari kupotong semua. Tangan dan kaki semuanya bersih”. Demikian syair lagu gubahan dari syair lagu “Lihat Kebunku” yang dinyanyikan secara riang oleh anak-anak Sekolah Dasar Negeri Inpres Komara II Desa Barugaya, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Lagu tersebut sebagai penyemangat dan bagian dari pesan kesehatan yang diselipkan setiap pelajaran di sekolah tersebut. “Sembari bermain dan bernyanyi, kami para guru berusaha menyelipkan pesan kesehatan kepada anak-anak. Namun, kami merasa masih kurang waktu untuk memberikan banyak hal tentang perilaku hidup bersih dan sehat kepada anak-anak,” ujar Hasna, salah satu guru yang pernah mengikuti pelatihan PHBS. Ia berharap, ada mata pelajaran bermuatan lokal tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang dapat diberikan kepada anak didik.
Susahnya lagi, lanjut Husna, belum semua murid mempunyai fasilitas jamban di rumah mereka masing-masing. Di sekolah, meskipun tersedia sarana WC dan cuci tangan di depan setiap kelas, namun air bersih belum tersedia.
Kunjungan ke Desa Barugaya dan Desa Bontomaranu pada hari ke tiga tanggal 30 Oktober 2009 merupakan bagian dari acara Rakornas Program WES RI-Unicef di Makassar. Kedua desa itu, sejak 2008, merupakan lokasi sasaran program WES di wilayah Sulawesi Selatan.
Masyarakat Desa Barugaya banyak menggunakan sarana air bersih dari sumur gali. Sarana air bersih sedang dibangun dengan sistem grafitasi perpipaan sepanjang 9 km yang sumbernya berasal dari mata air.
Pembangunan sarana air bersih tidak terlepas dari pembangunan sarana sanitasi dan penyadaran untuk hidup bersih dan sehat. Dari 102 kepala keluarga yang telah dipicu, hingga Oktober 2009, jumlah jamban yang dibangun sebanyak 55 unit.
Sementara Desa Bontomaranu, terutama Dusun Pabattoang dan Kalukubodo, mengakses air bersih dari sumur yang berwarna dan bau. Rencananya dibangun sumur pompa yang dialirkan ke reservoir kemudian mengalir ke rumah-rumah warga dengan sistem meteran.
Terdapat 256 rumah tangga di kedua dusun tersebut. Saat ini baru 40 rumah tangga yang terpicu CLTS. Sementara ada tiga sekolah dasar yang sudah memiliki sarana sanitasi dan cuci tangan pakai sabun.
Kunjungan lapangan dilaksanakan oleh sebagian tim peserta sedangkan sebagian lagi berkutat dengan penyusunan strategi pelaksanaan untuk batch II yang bertempat di ruang pertemuan hotel. Sesi ini memiliki input dari apa yang sudah diidentifikasi pada sesi pemaparan isu dan permasalahan oleh masing-masing pokja provinsi.
Penutupan
Penutupan Rakornas dilakukan oleh Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan dan Sosial Kota Makassar mewakili Walikota Makassar. Sebelum penutupan, dilakukan penyerahan penghargaan kepada beberapa perwakilan kabupaten dan kota terkait pelaksanaan praktik terbaik bidang AMPL.
Kasubdit Persampahan dan Drainase Bappenas Dr. Oswar Mungkasa memberikan wrap up keseluruhan Rakornas dan rencana tindak lanjut. Menurutnya, ada tiga pencapaian yaitu pelaksanaan WES telah menghasilkan beberapa contoh pembelajaran keberhasilan di beberapa lokasi maupun daerah dan untuk itu contoh keberhasilan perlu dikembangkan dalam skala luas dan disebarluaskan kepada pihak-pihak terkait dalam rangka knowledge management atau pengelolaan pengetahuan program program AMPL di Indonesia.
Rencana strategis pembangunan AMPL di daerah mitra kerja WES, lanjutnya, telah tersusun melalui proses partisipatif namun demikian masih diperlukan upaya penyempurnaan melalaui proses penguatan kapasitas dan pendampingan. “Pemerintah Belanda juga telah memberikan dukungan untuk penambahan biaya dan waktu pelaksanaan WES sampai dengan 2010”.
Chief of WES Section Unicef Francois Brikke memberikan pesan kepada para peserta Rakornas bahwa dalam sebuah pertemuan sesungguhnya bukan tampilan power point atau presentasi yang utama, tapi lebih kepada seberapa besar ruang yang bisa diberikan kepada orang lain untuk bisa mendiskusikan hal-hal yang dirasa penting. “Pada kehidupan nyata dalam pekerjaan sehari-hari, kita tidak selalu mempunyai kesempatan untuk melakukannya,” ujarnya.
Sementara sambutan Walikota Makassar yang dibacakan Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan dan Sosial Kota Makassar, mengharapkan agar kiranya seluruh materi yang dihasilkan akan disepakati sebagaimana rumusan hasil Rakornas serta dapat segera ditindaklanjuti dan dilaksanakan sebaik-baiknya oleh Pokja AMPL, baik pusat maupun daerah. “Semoga hasil yang didapat dari Rakornas ini dapat menjadi acuan dan motivasi dalam melaksanakan program WES ke depan guna meningkatkan kualtias hidup masyarakat kususnya jaminan atas ketersediaan fasiltas air bersih dan sanitasi,” tuturnya.

–WIL/BW-
- Risalah Hasil Rapat Koordinasi Nasional Program WES–UNICEF ini dapat anda unduh disini
- Press Release Rapat Koordinasi Nasional Program WES–UNICEF ini dapat anda unduh disini